Selasa, 01 Juni 2010

Pelatihan awal merpati balap sprint

Pelatihan awal merpati balap sprint: Pola terbang


Melatih merpati balap sprint harus dengan cara yang benar (sumber foto sripoku.com)
Menyambung tulisan mengenai mencetak burung merpati balap sprint yang saya ambilkan dari Trubus, sekarang saya akan menuliskan lanjutannya, yakni melatih merpati balap sprint. Hal ini juga sangat penting karena meski kita punya merpati anakan jawara, kalau dia tidak dibesarkan dalam pelatihan yang baik dan benar, maka mustahil bakal menjadi jawara.
PELATIHAN:
Sehari setelah teloran kedua atau sebulan kemudian (baca tulisan di sini), merpati balap sudah bisa berlatih di halaman atau lapangan. Namun bila pasangan betina belum bertelor, disarankan tidak langsung mencoba si jantan berlatih. Karena keduanya pasti belum ngeket. Jika dipaksa berlatih, si jantan bakal kabur.
Umumnya waktu latihan dipilih sesudah merpati balap dijemur, sekitar pukul 11 siang. Latihan itu dimulai dengan menyiapkan 2 kandang kecil. Msing-masing kandang dipisahkan 5-10 meter. Mauskkan kedua merpati balap ke dalam kandang, Si jantan kemudian dibiarkan lepas sesaat untuk beradaptasi dan kemudian menghampiri betina.
Mintalah salah satu perawat untuk kembali membawa si jantan ke kandang lagi. Si jantan dapat digoda kembali. Caranya kelepakan betina sampai sayapnya mengembang penuh. Jika giring, si jantan akan terbang kembali mendatangi betina. Latihan ini dilakukan 1-2 hari dengan frekuensi 4-5 kali.
Bila si jantan semakin giring, biasanya setelah teloran ke-3, jarak terbang ditambah sekitar 20-50 meter. Beberapa penangkar memilih langsung 20-50 meter. Hal ini dapat dilakukan asal si burung cerdas. Latihan ini diberikan selama 3-4 hari dengan frekuensi antara 2-5 kali.
TERBANG LURUS
Tujuan terbang pendek jarak 5-1- meter atau 20-50 meter agar si burung mampu terbang lurus. Bila tidak, si jantan akan terbang ke atas, berputar-putar dulu sebelum hingga di betina.
Cara lain agar peluang burung terbang lurus semakin besar, sang joki perlahan-lahan mundur teratur sampai jarak tertentu. Contoh jarak awal pelepas dan joki 10 meter, saat si jantan mulai dilepas, sang joki sudah berjarak sekitar 15 meter.
Pada latihan itu posisi si joki menangkap burung tidak boleh sembarangan. Ia harus jongkok supaya burung terbiasa terbang lurus dan rendah sekitar 2-3 meter dari tanah. Usahakan merpati ditangkap di tanah bukan hinggap di tangan. Jika sejak awal dilatih ditangkap di tangan dengan posisi si joki berdiri, si merpati akan terbang lebih tinggi lagi. Dampaknya di lomba sang joki akan menangkap merpati dengan cara menjambret atau populer dengan sebutan barongsai.
Namun seringkali kesalahan fatal dilakukan oleh joki. Misalnya tangan kiri yang akan menangkap posisinya di atas betina. Akibatnya pandangan si jantan akan terhalang sehingga mengurangi kecepatan terbang. ia terlihat ragu-ragu untuk mendarat. Lebih baik posisi tangan kiri ada di belakang tangan kanan.
POLA TERBANG
Jika merpati mampu terbang lurus, jarak latihan ditambah lagi sampai 200-400 meter. Saat itu karakter burung sudah terlihat. Hal itu tampak saat bertemu lawan tanding. Ia bisa memukul dari atas atau zigzag mengganggu lawan. Ada pula yang cenderung mengusir lawan dengan cara mengepak sayap. Kebiasaan itu memang sifat bawaan yang tidak bisa dilatih.
Setiap merpati balap memang mempunyai pola terbang yang berbeda. Pola itu berpengaruh pada kecepatan terbang si merpati. Ada 4 pola umum yang dimiliki merpati balap. Namun pemakaian pola ini tergantung sifat bawaan si merpati.
1. Terbang datar lurus ke depan
Pola ini paling disukai joki. Banyak merpati balap handal memiliki cara terbang ini. Kekuatan otot sayap merupakan kuncinya. Ia harus kuat lantaran tridak memanfaatkan gratvitasi bumi sebagai bantuan. Jika otot tidak prima, merpati balap akan kehabisan tenaga dan napas.
2. Terbang menurun kemudian mendatar lurus ke depan
Pola ini menghasilkan kecepatan yang lebih rendah karena perlu waktu untuk menukik sesaat. Cara ini baru efektif dipakai pada lintasan pendek yang mengandalkan keseimbangan badan, reflek sayap dan ekor.
3. Terbang zigzag.
Pola ini jarang dipakai oleh merpati balap lantaran butuh keseimbangan dan refleks tinggi. Cara terbang ini memanfaatkan sudut zigzag untuk memperkecil tekanan angin ketika terbang melawan angin.
4. Terbang melambung dan meluncur ke bawah
Pola ini serupa cara elang memburu mangsa. Tenaga lebih sedikit dikeluarkan. Pasalnya, luncuran awal terbantu oleh gravitasi bumi. Pakem ini mampu mengimbangi terbang datar lurus pada lintasan panjang. Namun tidak efisien pada lintasan pendek lantara ada waktu terbuang ketika melambung.


Dari sekian jumlah spesies yang ada, merpati dibedakan atas tiga tipe, yaitu bangsa merpati yang diambil keindahannya untuk pameran (fancy breed), bangsa yang dinilai ketangkasannya (performing breed), dan bangsa yang diambil kegunaan sebagai penghasil daging (utility breed).
Tipe performing breed seperti Homer memiliki kecepatan dan ketahanan terbang, Birmingham Roller memiliki kemampuan terbang sambil berputar-putar (rolling), Panlor Tumbler memiliki kemampuan jungkir balik di atas lantai dan berakrobat atau manuver di udara.
Merpati termasuk ke dalam Kingdom Animalia, kelas unggas (aves), dan hewan bertulang belakang (vetebrata), dan spesies Columbia livia yang berdarah panas dan suhu tubuhnya ±41 derajat C atau lebih tinggi dari manusia dan mamalia lainnya. Karakteristik yang dimilikinya antara lain dapat hidup di seluruh wilayah dunia kecuali di Antartika, dan mempunyai sifat damai serta hampir tidak ada peck order dan kanibalisme, walaupun ditempatkan dalam satu kandang.
Merpati mudah menyesuaikan diri (adaptif) dengan lingkungan, memilih pasangan sendiri, bersifat monogami, dan mempunyai sifat sense of location dalam waktu yang lama dan dalam jarak jauh.
Bobot hidup dewasa merpati penghasil daging (Blakely dan Bade, 1998) dapat dikelompokkan dalam 3 kategori, yaitu :
1. Berat (700-900 g), seperti : American Swiss Mondane, White King, Silver King, Auto Sexing Texas Pionner, Auto Sexing King
2. Medium (600-700 g), seperti : Red atau White Chernau, American Giant Homer.
3. Ringan (400-700g) : seperti : Hungarian (biru, putih atau merah, Squabing Homer (Homer pekerja)
Salah satu ciri yang membedakan antara merpati dengan unggas lainnya adalah merpati menghasilkan crop milk atau susu tembolok (pigeon milk), yaitu cairan berwarna krem menyerupai susu yang dikeluarkan dari tembolok induk jantan maupun betina. Crop pigeon milk yang diproduksi oleh tembolok induk menyerupai keju dan cair, diproduksi sebelum menetas.
Cairan ini diberikan induk kepada anak-anaknya (squabs) dengan cara meloloh dan memompa ke dalam mulut anaknya. Kandungan zat nutrien susu tembolok (pigeon milk) pada merpati (Suprapti, 2003), antara lain : Air (64,30 – 76,75%), Protein (13,17 – 18,80%), Karbohidrat (13,00 – 14,50%), Lemak (7,95 – 12,70%), Abu (1,52 – 1,60%).
Merpati jantan mencapai dewasa kelamin pada umur 4 bulan dan betina umur 6 bulan. Burung merpati bertelur 1-3 butir setiap periode bertelur (clutch), dengan warna telur putih dan berbentuk ellips, tetapi ujungnya meruncing pada bagian yang berlawanan dengan rongga udara, dengan ukuran telur bervariasi tergantung jenis merpatinya.
Di alam bebas, merpati hanya bertelur 2-3 kali/tahun. Merpati yang dipelihara untuk tujuan komersial, umumnya bertelur rata-rata setiap 26-40 hari tergantung pada musim dan faktor lainnya. Pengeraman telurnya dilakukan oleh kedua pasangannya, baik jantan maupun betina, tetapi yang lebih banyak melakukan pengeraman adalah sang betina, sementara sang jantan menggantikannya pada pagi sampai siang hari saja. Levi (1945) menggolongkan merpati menurut umurnya, yaitu:
1. Squabs, anakan merpati dari umur satu sampai tiga puluh hari. Squabs atau piyik adalah merpati muda yang siap dipasarkan pada umur sekitar 28-30 hari, dan pada umur tersebut piyik mendapatkan makanan yang dihasilkan dari tembolok induknya (susu temblok), baik jantan maupun betina. Makanan yang berasal dari tembolok induk mempunyai kandungan protein sampai 35%, dua kali lipat atau lebih tinggi dibanding kandungan protein pada pakan unggas yang lainnya.
2. Squaker, merpati umur dari 30 hari sampai 6-7 bulan.
3. Youngster merpati yang sudah berumur di atas 7 bulan sampai siap kawin. Jantan atau betina muda kawin pada tahun pertama produksi.
4. Yearling hen yaitu merpati yang sudah berproduksi pada tahun kedua, baik jantan dan betina sampai umur di culling.
Pada pemeliharaan burung merpati identifikasi jenis kelamin (sexing) dapat dilakukan setelah anak merpati berumur 23-24 hari, dengan melihat bentuk kloakanya. Selain itu, identifikasi jenis kelamin dapat juga dilihat melalui permukaan kepala, tulang kaki dan leher. Pada merpati jantan permukaan kepalanya kasar dan terlihat lebih maskulin, tulang kakinya kuat dan lehernnya besar, sedangkan pada burung merpati betina permukaan kepalanya rata dan terlihat halus, tulang kakinya lebih ramping dan lehernya lebih kecil (Levi, 1945). Komposisi kimia daging squabs menurut Bokhari (2001), yaitu : Air (72,80%), Energi (142 kal), Protein (17,50%), Lemak (7,50%), Serat (0%), Abu (1,20%), Fe (2,53 mg), Lisina (1,91g).
Pakan merpati
Kebutuhan nutrien untuk merpati hampir sama dengan jenis unggas lainnya. Satu pengecualian utama adalah burung merpati dewasa membutuhkan grit untuk membantu menggiling dan mencerna biji-bijian yang dikonsumsinya. Pakan merpati terdiri atas unsur-unsur ransum campuran antara biji-bijian, mineral, grit dan air minum atau dalam bentuk pellet. Formula grit yang baik untuk merpati terdiri atas 40% kulit kerang, yang digiling kasar, 35% kapur atau grit granit, 10% arang kayu keras, 5% tulang yang digiling, 5% kapur dan 4% garam yodium.
Komposisi pakan yang terdiri atas biji-bijian disarankan adalah 35% jagung, 22,7% kacang kapri, 19,8% gandum dan 18% milo dengan kadar protein minimum 14%. Pemberian pakan pada merpati cukup mudah karena merpati menyukai jagung, kedelai, kacang tanah dan gandum. Komposisi pakan yang baik untuk merpati ini terdiri atas protein kasar 13,5%, karbohidrat 65,0%, serat kasar 3,5% dan lemak 3,0%. Selain itu, merpati juga membutuhkan mineral dan vitamin.
Menurut Drevjany (2001) dalam Suprapti (2003), pada musim panas merpati membutuhkan jagung 25% dan pellet 75%, sedangkan musim dingin jagung dapat diberikan sebanyak 50% dan pellet 50%. Pakan merpati sebaiknya mengandung protein kasar 16% dari total rasio pakan. Merpati mengonsumsi biji-bijian sekitar 100-150g ekor/pasang, dengan rataan konsumsi sebesar 130,25g/hari/pasang. Untuk jenis merpati Hing, sementara jenis Homer rataan konsumsi pakannya sekitar 111,64/g/hari/pasang.
Usaha Konservasi Dan Pelestarian
Banyak spesies dari merpati mempunyai nilai ekonomis dan menguntungkan bagi manusia. Beberapa spesies jumlahnya sudah menurun dan mengalami beberapa ancaman dari kepunahan. Sekitar 10 spesies sudah mengalami kepunahan sejak tahun 1600, dua di antaranya adalah merpati Dodo dan merpati penyampai pesan (messenger pigeon/dove).
Jumlah populasi merpati terdahulu sangat sulit diestimasi, tetapi salah seorang ahli ornitologi bernama Alexander Wilson memperkirakan bahwa salah satu kelompok merpati yang dia observasi lebih dari 20.000 ribu ekor, sebelum dia meninggal pada tahun 1914. Beberapa spesies lainnya mengalami kepunahan dan hilang seperti di hutan dan habitat lainnya. Sekitar 59 spesies merpati sekarang terancam dari kepunahan, dan sekitar 19% dari semua spesies.
Beberapa upaya teknik konservasi yang dilakukan untuk mencegah ancaman dari kepunahan, antara lain diperlukan penegakan hukum yang tegas dan upaya regulasi untuk mengontrol kegiatan pemburuan, dan untuk melindungi wilayah dari penurunan habitat yang lebih jauh lagi. Selain itu perlu dilakukan re – introduksi populasi secara ex- situ dan trans – lokasi masing-masing individu ke habitatnya yang sesuai sehingga populasinya dapat meningkat dan kelestariannya terjaga dengan baik.
Semoga bermanfaat.

3 komentar:

  1. Kenapa merpati sy kalau dalam kandang Sllu ngeket ato giring tp pada saat di lepas pasti khan kabur kekanda lalu. Kembali ke betina.
    ♈ªϞƍ sy harapakan bgt dilepas khan hinggap di betina sama saat dia dlm kandang gitu

    BalasHapus

Ada kesalahan di dalam gadget ini